Selasa, 24 Juli 2012

KELUARGA BESAR SD 73 GURUN MUDO MENGUCAPKAN " SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA DAN SHOLAT TARAWEH , SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA OLEH ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA "


2013 Batas Akhir Guru Senior Ikuti Sertifikasi

2013 Batas Akhir Guru Senior Ikuti Sertifikasi

JAKARTA- Para guru senior yang berniat ikut sertifikasi tapi belum bergelar sarjana, tidak perlu khawatir. Sebab, tahun depan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) masih memberikan kuota sertifikasi bagi guru yang belum berijazah S-1. Kesempatan ini berlaku hingga 2013.
Ketua Badan Pengambangan Sumber Daya Manusia dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDM-PMP) Kemendiknas Syawal Gultom menuturkan, Kemendiknas memiliki ancang-ancang kuota sertifikasi guru tahun depan sebesar 393.020 guru.
Dari jumlah tersebut, dialokasikan untuk guru yang bergelar S-1, S-2, dan S-3 sebesar 223.233 orang. Sedangkan untuk kuota guru yang belum bergelar sarjana sebesar 169.787.
Rinciannya, kuota untuk guru belum S-1 berumur lebih dari 50 tahun dan masa kerja lebih dari 20 tahun sejumlah 44.103 guru. Untuk kuota guru belum S-1 tapi sudah masuk Golongan IV/a sebanyak 36.714 orang. Terakhir, kuota untuk guru yang sedang menempuh program sarjana sebesar 88.970 orang.
Gultom menjelaskan, angka ini masih hitungan dari pihak BPSDM-PMP. Kemudian, untuk menjadi kuota definitif, akan dirembuk bareng bersama DPR. Selain itu, data juga berpotensi berubah jika ada up date soal guru layak ikut sertifikasi di tingkat provinsi. Untuk kegiatan ud date ini dibatasi hingga 30 September.
“Kondisi di lapangan, ada sejumlah guru yang belum S-1 tapi golongan kepangkatannya IV/a,” tandas Gultom. Dia menuturkan, guru dengan kondisi ini masih diberi toleransi untuk mengikuti sertifikasi.
Gultom berjanji, pihaknya akan menghabiskan sisa guru yang belum sarjana ini hingga 2013 mendatang. Selanjutnya, program sertifikasi guru setiap tahun hanya akan diikuti oleh guru-guru yang sudah mengantongi ijazah minimal S1.
Gultom berharap, meski belum bergelar sarjana, para guru sepuh yang bakal mendapatkan sertifikat pendidik itu harus meningkatkan profesionalisme kerjanya.
“Jangan sampai kencang ketika mengejar sertifikasi. Setelah itu kendur ketika kembali mengajar,” paparnya.
Kepala Pengembangan Profesi Pendidik (Bangprodik) BPSDM-PMP Kemendiknas Unifah Rosyidi menuturkan, pihaknya terus mengingatkan jika tunjangan sertifikasi yang diberikan kepada guru yang sudah mengantongi sertifikat pendidik, bukanlah gaji. “Sifat tunjangan ini berbasis kinerja,” ujarnya.
Untuk itu, Unifah mengingatkan supaya para guru yang sudah memegang sertifikat pendidik terus menjaga kinerja mengajarnya. Apalagi, tahun depan akan diterapkan sistem evaluasi khusus bagi guru-guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi ini. Jika hasil evaluasi menyatakan seorang guru kinerjanya jeblok, maka tunjangan profesi pendidik (TPP)-nya bakal dibekukan dulu. TPP baru bisa dicairkan lagi jika kinerjanya sudah sesuai dengan standar kompetensi. (wan/nw/jpnn)

2013 Batas Akhir Guru Senior Ikuti Sertifikasi

JAKARTA- Para guru senior yang berniat ikut sertifikasi tapi belum bergelar sarjana, tidak perlu khawatir. Sebab, tahun depan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) masih memberikan kuota sertifikasi bagi guru yang belum berijazah S-1. Kesempatan ini berlaku hingga 2013.
Ketua Badan Pengambangan Sumber Daya Manusia dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDM-PMP) Kemendiknas Syawal Gultom menuturkan, Kemendiknas memiliki ancang-ancang kuota sertifikasi guru tahun depan sebesar 393.020 guru.
Dari jumlah tersebut, dialokasikan untuk guru yang bergelar S-1, S-2, dan S-3 sebesar 223.233 orang. Sedangkan untuk kuota guru yang belum bergelar sarjana sebesar 169.787.
Rinciannya, kuota untuk guru belum S-1 berumur lebih dari 50 tahun dan masa kerja lebih dari 20 tahun sejumlah 44.103 guru. Untuk kuota guru belum S-1 tapi sudah masuk Golongan IV/a sebanyak 36.714 orang. Terakhir, kuota untuk guru yang sedang menempuh program sarjana sebesar 88.970 orang.
Gultom menjelaskan, angka ini masih hitungan dari pihak BPSDM-PMP. Kemudian, untuk menjadi kuota definitif, akan dirembuk bareng bersama DPR. Selain itu, data juga berpotensi berubah jika ada up date soal guru layak ikut sertifikasi di tingkat provinsi. Untuk kegiatan ud date ini dibatasi hingga 30 September.
“Kondisi di lapangan, ada sejumlah guru yang belum S-1 tapi golongan kepangkatannya IV/a,” tandas Gultom. Dia menuturkan, guru dengan kondisi ini masih diberi toleransi untuk mengikuti sertifikasi.
Gultom berjanji, pihaknya akan menghabiskan sisa guru yang belum sarjana ini hingga 2013 mendatang. Selanjutnya, program sertifikasi guru setiap tahun hanya akan diikuti oleh guru-guru yang sudah mengantongi ijazah minimal S1.
Gultom berharap, meski belum bergelar sarjana, para guru sepuh yang bakal mendapatkan sertifikat pendidik itu harus meningkatkan profesionalisme kerjanya.
“Jangan sampai kencang ketika mengejar sertifikasi. Setelah itu kendur ketika kembali mengajar,” paparnya.
Kepala Pengembangan Profesi Pendidik (Bangprodik) BPSDM-PMP Kemendiknas Unifah Rosyidi menuturkan, pihaknya terus mengingatkan jika tunjangan sertifikasi yang diberikan kepada guru yang sudah mengantongi sertifikat pendidik, bukanlah gaji. “Sifat tunjangan ini berbasis kinerja,” ujarnya.
Untuk itu, Unifah mengingatkan supaya para guru yang sudah memegang sertifikat pendidik terus menjaga kinerja mengajarnya. Apalagi, tahun depan akan diterapkan sistem evaluasi khusus bagi guru-guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi ini. Jika hasil evaluasi menyatakan seorang guru kinerjanya jeblok, maka tunjangan profesi pendidik (TPP)-nya bakal dibekukan dulu. TPP baru bisa dicairkan lagi jika kinerjanya sudah sesuai dengan standar kompetensi. (wan/nw/jpnn)

Senin, 23 Juli 2012

EDS




EDS adalah :
Proses Evaluasi Diri  Sekolah yang bersifat internal yang melibatkan  pemangku kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan investasi pendidikan tingkat Kab/Kota


Tujuan EDS adalah :


1.Sekolah menilai kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP.


2.Sekolah  mengetahui tingkat  pencapaian dalam SPM dan SNP sebagai dasar perbaikan.


3.Sekolah dapat menyusun RPS/RKS sesuai kebutuhan nyata menuju ketercapaian implementasi SPM dan SNP.  
 mamfaat EDS
1.Tingkat Sekolah: 
       Mengevaluasi dan melaporkan ketercapaian SPM dan SNP dan hasilnya sebagai dasar RPS. 
2.Tingkat kab/kota:
       Hasil EDS sebagai masukan dan dasar perencanaan investasi pendidikan dan dukungan sumber daya kepada sekolah (MSPD).
 

Anak yang Berjalan Kaki ke Sekolah Lebih Siap Menerima Pelajaran

Jika jarak sekolah anak tidak begitu jauh dari rumah, biarkan anak Anda pergi ke sekolah dengan berjalan kaki bersama teman-temannya. Penelitian menemukan bahwa anak yang berjalan kaki menuju sekolah lebih siap menerima pelajaran daripada anak yang diantar orang tuanya naik kendaraan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Buffalo, New York, anak yang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dapat memberikan efek seperti berolahraga yang dapat membantu anak mempersiapkan diri dari tekanan atau beban dari kehidupan sekolah.

Sebagian anak dalam penelitian tersebut diminta berjalan di atas treadmill dan sebagian lagi diminta naik mobil simulasi. Kemudian peneliti memberikan beberapa soal yang harus diselesaikan oleh masing-masing kelompok.

Hasilnya, anak yang sebelumnya berjalan di treadmill lebih tenang dalam menyelesaikan soal, sedangkan anak yang naik mobil simulasi melaporkan bahwa dirinya merasa jauh lebih gugup ketika dihadapkan pada soal yang diberikan oleh peneliti.

Seperti dilansir dari ivillage, Senin (23/7/2012), aktivitas seperti berjalan di treadmill atau pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dapat meningkatkan aliran darah ke otak yang membuat anak lebih waspada. Saraf pada otak juga lebih aktif dan siap menerima tekanan berupa pelajaran amupun ujian di sekolah.

Jangan terlalu memanjakan anak dengan mengantarnya ke sekolah dengan mengendarai kendaraan. Jika jarak sekolahnya cukup dekat dari rumah, berjalan kaki dapat memberikan manfaat bagi anak terkait kesiapannya menjalani kehidupan sekolah.

Selain itu, anak juga dapat berinteraksi dengan teman-temannya dalam perjalanan ke sekolah yang baik untuk kehidupan sosialnya.